LARANTUKA,MDTV-NEWS.com - Kasus dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di SMPK Sint Gabriel Larantuka masih menyisakan tanda tanya. Meski pihak sekolah menegaskan belum ada bukti kuat yang mengarah pada keracunan, suara orang tua siswa justru semakin lantang. Mereka menyoroti kualitas bahan pangan yang disajikan, terutama ayam beku dan sayur yang disebut sudah asam.
Awal Mula Kasus
Suasana sekolah yang biasanya riuh mendadak berubah tegang ketika sembilan siswa harus dilarikan ke Klinik Susteran Tabali. Keluhan mereka sama: sakit perut. Sehari sebelumnya, para siswa diketahui menyantap menu MBG.
Dugaan keracunan pun cepat menyebar, meski hasil pemeriksaan klinik menunjukkan sebagian besar hanya mengalami sakit perut ringan, bahkan ada yang didiagnosis infeksi saluran kencing.
Kepala sekolah, Sr. Maria Fabiana, PRR, menegaskan pihaknya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan.
“Belum bisa dikatakan ini keracunan. Untuk penyebab pastinya, biarlah pihak berwenang yang meneliti,” ujarnya.
Menu MBG Jadi Sorotan
Program MBG di SMPK Sint Gabriel sudah berjalan cukup lama. Pasokan makanan berasal dari SPPG Orakeri yang melayani lebih dari 3.000 penerima manfaat di Larantuka. Menu yang disediakan sederhana: telur hampir setiap hari, ayam sebulan sekali, serta ikan teri dicampur tempe.
Namun, tidak semua siswa mengonsumsi MBG. Ada yang membawa bekal dari rumah karena alergi terhadap telur. Pantauan media pada Selasa, 27 Oktober 2026 menunjukkan menu berupa nasi, ikan tongkol goreng, dua potong tahu, dua buah pisang, dan sayur. Dari sekitar 400 siswa, hanya 30 persen yang mengonsumsi.
Tanggapan Orang Tua: Ayam Beku dan Sayur Asam
Di balik sikap hati-hati sekolah, orang tua siswa justru menyampaikan keluhan yang lebih tajam. Mereka menilai kualitas bahan pangan MBG tidak layak dikonsumsi.
“Ayam yang mereka pakai itu ayam frozen. Entah disembelih kapan dari produsennya. Saya kalau punya anak usia sekolah yang dapat MBG, saya tidak izinkan makan daging frozen. Murah memang, tapi kualitasnya tidak bagus. Masih mending kasih makan ikan segar daripada ayam beku,” ungkap seorang wali siswa dengan nada kecewa.
Ada pula orang tua yang mengaku anaknya sudah enggan menyentuh makanan MBG.
“Sudah beberapa hari dia tidak mau makan MBG lagi. Soalnya dia makan sayurnya sudah rasa asam, rusak. Makanya dia tidak mau makan lagi,” tuturnya.
Cerita serupa datang dari orang tua lain. Mereka menyebut banyak anak izin di grup sekolah karena sakit perut.
“Anak saya bilang ada yang makan, ada yang tidak. Termasuk anak saya di SMP Gabriel juga. Dia cerita sayurnya sudah asam. Makanya sudah beberapa hari dia tidak mau makan lagi,” kata seorang ibu.
Antara Dugaan dan Fakta
Testimoni orang tua ini menambah lapisan baru dalam polemik MBG. Jika sebelumnya sekolah menekankan bahwa sakit perut siswa belum tentu akibat makanan, kini muncul cerita yang mengarah pada kualitas bahan pangan. Ayam beku yang dianggap murah tapi tidak layak, serta sayur yang terasa asam, menjadi sorotan tajam.
Pertanyaan besar pun muncul: apakah standar pengawasan terhadap bahan makanan sudah benar-benar dijalankan? Ataukah ada celah dalam distribusi yang membuat kualitas pangan menurun sebelum sampai ke meja siswa?
Menunggu Kepastian
Pihak sekolah memilih menyerahkan sepenuhnya kepada Dinas Kesehatan Flores Timur. Mereka akan memeriksa sampel makanan MBG untuk memastikan apakah benar ada kontaminasi atau sekadar kebetulan.
Namun, bagi orang tua, penjelasan medis saja tidak cukup. Mereka ingin jaminan bahwa anak-anak mereka mendapatkan makanan yang aman, bukan sekadar bergizi di atas kertas.
“Sedih sekali kalau anak-anak hanya dapat bagian sayurnya saja. Kalau dapat daging, sekali cubit sudah tidak ada lagi,” keluh seorang wali siswa.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa program makanan bergizi di sekolah bukan hanya soal distribusi, tetapi juga kualitas dan pengawasan. Dengan jumlah penerima manfaat yang besar, setiap detail dalam penyediaan makanan harus diperhatikan agar tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi siswa.
Kini, sembilan siswa yang sempat sakit sudah mendapatkan perawatan. Namun, cerita mereka masih menyisakan kegelisahan. Orang tua menunggu hasil pemeriksaan resmi dari Dinas Kesehatan, sementara sekolah berkomitmen mendampingi anak-anak yang terdampak.
Apapun hasilnya nanti, peristiwa ini membuka ruang diskusi lebih luas tentang pentingnya standar keamanan pangan dalam program MBG. Sebab, makanan yang seharusnya menjadi penopang kesehatan anak-anak tidak boleh justru menjadi sumber masalah.**